Saturday, 6 August 2016

Restu Tuhan: Suami Sah tapi ILegal

Cerita Cinta, Cerita Fiksi, cerpen remaja, Perjodohan Paksa, Sastra,
Lanjutan dari Tuhanku Bukan Orang Tuaku

"Sok pinter...!!" Bapak menamparku. "Anak perempuan seperti kamu tahu apa?!"

Sejenak kumenangkap pandangan mata ibu. Berkaca. Tapi segera berpaling. Aku lari ke kamar. Ibu mengejarku. Kurebahkan diri di kasur. Menangis. Ibu duduk di sampingku sambil membelai-belai rambutku. Aku menangis sejadi-jadinya. Hampir putus asa.

Rabu 18 Mei 2016 sehabis sholat Maghrib Rina datang lagi. Dengan wajah ceria ia masuk ke kamarku, tetapi tawanya segera memudar melihat air mataku. "Kenapa, Fa? Kenapa lagi?" Aku tidak menjawab; merunduk diam. Berat rasanya yang mau bicara. Rina duduk di sampingku, "Kenapa, Fa?"

"Bapak tidak percaya, Rin," sambil menangis aku berusaha cerita padanya. "Mungkin karena tidak mendengar sendiri rekaman itu."

Rina menghela nafas dalam. Diam sejenak. Masalah ini memang menyesakkan. "Sabar, Fa. Pasti ada jalan. Pasti. Pasti."

Rina sahabat baikku. Ia takkan berhenti menolongku sebelum melihatku tersenyum. Begitulah ia. Di saat seperti ini, dialah satu-satunya orang yang bisa memberiku harapan. Sedangkan ibu, walau kepeduliannya, aku yakin, jauh lebih besar dibanding Rina, tapi ibu tak berdaya. Mungkin ibu lebih menderita dariku.

"Aku coba minta solusi sama Mas Rahman."

"Mas Rahman?! Yang dulu suka sama kamu, tapi kamu tolak terus?!"

Rina mengangguk sambil tersenyum.

"Katamu istrinya cemburuan dan memusuhimu?"

"Tidak apa-apa."

Rina berdiri. "Mau kemana, Rin?!" aku tak ingin dia nekad karenaku.

"Aku berangkat sekarang."

"Ini kan sudah malam, Rin!"

"Assalamualaikum."

Aku tidak bisa mencegahnya.

***
Malam berlalu begitu cepat. Aku suka kesunyian. Aku ingin sendiri tanpa siapa-siapa. Aku ingin malam lebih lama. Aku bosan dengan keramaian. Bosan dengan hidup ini.

"Assalamualaikum...!!"

Aku kenal sekali, itu suara Rina. Pagi sekali dia ke sini. Ibu membukakan pintu. Aku menghampirinya, lalu kami duduk di ruang TV. "Aku dapat solusi jitu," katanya. "Kali ini tidak akan gagal." Aku tidak begitu yakin dengan sikap bapak yang begitu keras. "Tadi malam aku diskusi sama Ustadz Arif."

"Ustadz Arif?"

"Iya, alumni Al Azhar, Cairo."

"Kenal dimana?"

"Tadi malam aku ke rumah Mas Rahman. Dia pas bersama istrinya di ruang depan. Istrinya mengusirku sebelum aku masuk. Tapi Mas Rahman maksa mengijinkan aku masuk. Aku sampaikan tentang masalahmu. Dia memperkenalkan aku dengan Ustadz Arif. Lalu aku pamit. Sesampainya di rumah aku langsung menghubunginya lewat WA. Rupanya dia belum tidur dan mau menjawab semua pertanyaanku hingga jam sebelas tadi malam."

Aku tersenyum. Berani sekali dia.

"Ini percakapanku dengannya di WA," Rina memberikan HP-nya. Kubaca percakapan dia dengan Ustadz alumni al Azhar itu. Kumulai dari jawaban Ustadz Arif.

"Jika dia dan pria pilihannya sekufu, maka boleh meminta hakim menginterogasi sebab penolakan bapaknya dan meminta bapaknya merestui pilihan anak gadisnya. Ada ulamak yang mengatakan tidak boleh menggunakan wali selain ayahnya kecuali ayahnya sudah tiada; solusinya pergi ke daerah lain yang jauhnya sejauh jarak dibolehkannya shalat qashar, lalu mintalah hakim menikahkan di sana. Ini menurut pendapat Madzhab Hanafi. Tetapi pemerintah melarang pernikahan semacam ini."

"Sekufu dalam hal apa saja, Ustadz?"

"Menurut Imam Malik dan Imam Syafi'i sekufu yang dimaksud adalah sekufu atau setara dalam hal agama."

Aku menatap Rina penuh tanya. Seakan aku tak percaya dan tak sanggup jika harus melakukan ini. "Rin..." aku tak sanggup berkata-kata. Rasanya ini gila, ini ide gila.

Rina menghela nafas panjang, seakan turut merasakan sesaknya. "Jika ini satu-satunya jalan..."

Kupejamkan mata dan diam.

Bersambung

Followers